Feeds RSS

Tuesday, 15 September 2009

Ultimatum

“Pulangnya jangan sampai sore lho,Mi…..,” sulungku menyatakan ‘warning’nya kala aku sedang bersiap pergi ke kantor pagi itu. Kuhitung, ini sudah peringatan yang kesekian diarahkannya padaku akhir-akhir ini.

Aku urung menstarter motorku, coba merenungi kata-katanya barusan. Pulang sore? Sebenarnya jam berapa sih akhir jam kerjaku? Tak sampai sore sebenarnya. Bila aku tak mampir-mampir, jam dua siang aku sudah bisa bercengkerama dengan anak-anakku di rumah. Aku punya sedikit waktu untuk tidur siang sebelum kembali disibukkan dengan aneka tugas domestikku, menyuapi dan memandikan anak-anak terutama.

Lalu, mengapa Zuhdi mengeluarkan ultimatum seperti itu padaku? Pasti ada sesuatu yang salah dengan jadwal harianku. Pulang kerja, mampir ke warung belanja sayuran untuk besok pagi, kadang sekalian ke warnet yang kebetulan letaknya berdampingan dengan tukang sayur langgananku. Awalnya cuma ‘having fun’ aja,refreshing setelah seharian lelah bekerja. Tak terasa satu jam, kadang dua jam berlalu tanpa terasa. Belum lagi kalau musim pameran buku tiba. Aku bisa betah sampai malam muter-muter cari buku buat nambah koleksi taman bacaanku.

Akhirnya.....aku pun sampai di rumah dalam keadaan capai. Tak sempat memejamkan mata walau sekejap karena keempat ’permata’ku sudah antri ingin dimanja. Tak ada lagi acara baca buku bersama karena tenagaku seolah habis tak bersisa. Yang ada hanya kantuk yang makin menggelayut di mata. Celotehan mereka pun hanya kutanggapi sekedarnya.

Tak jarang si sulung asyik main dengan teman-temannya hingga Maghrib tiba dan ketika pulang membawa berjuta kata ajaib yang tak sepantasnya diucapkan anak seusianya. Adiknya pun tak kalah asyiknya dengan game-game baru di komputernya.

Betapa tak adilnya diriku. Pantas saja anakku protes bila jadwal kepulanganku molor dari waktu yang semestinya. Ia bisa membaca kualitas kebersamaanku yang ’hambar’ bila aku pulang telat. Berbeda bila aku pulang lebih awal, aku punya waktu istirahat untuk memulihkan staminaku, dan berinteraksi bersama buah hatiku dengan asupan tenaga baru.

Terimakasih Mas Zuhdi atas ’sentilan’ tanda cintanya.......a great love for you!

0 comments:

Post a Comment