Feeds RSS

Tuesday, 15 September 2009

Masterpiece

Kutahan keluhku sambil memasukkan baju-baju yang barusan kucuci ke mesin pengering.Setengah hari lewat sudah,tapi aku belum juga selesai membereskan rumahku.

Keempat anakku bergantian keluar masuk rumah,meninggalkan noda apapun yang berada di telapak kaki mereka,membentuk noktah warna-warni di atas lantai yang sejurus lalu masih tampak mengkilat setelah kubersihkan dengan susah payah.Remah-remah biskuit dan noda susu menghiasi karpet ruang tengah yang beberapa hari lalu baru saja kuambil dari laundry.Buku-buku berserakan,bahkan beberapa diantaranya sudah robek tak karuan.

Dan ,lihatlah!Tumpukan piring dan gelas kotor kembali menggunung.Dalam hitungan menit sudah tak terhitung berapa puluh kali para liliput itu bergantian minta sirup,susu,atau sepotong pudding dan kemudian meninggalkan wadahnya begitu saja.

Kini mataku tertuju ke jendela kaca yang beberapa jam lalu selesai kubersihkan. Tampak bekas tapak-tapak tangan dan mulut kecil menghiasinya. Noda-noda coklat juga terlihat disana-sini.

Hampir menangis,aku menghempaskan diri di kursi tamu.Meratapi ‘kemalanganku’ membesarkan empat anak yang tak pernah berhenti merepotkanku.

Dering handphone menjerit-jerit dari kamarku.Tanpa gairah aku meraihnya,“Halo….?!”
Suara wanita paruh baya yang sangat akrab di telingaku menyambut sapaanku dengan suka cita.“Kau baik-baik saja,sayang?!”Ups…….rupanya ibu mampu membaca nada suaraku yang setengah hati.

Lalu mengalirlah semua kekesalanku tanpa bisa kubendung lagi.Tentang repotnya menyelesaikan pekerjaan rumah seorang diri.Juga masalah anak-anak yang tak henti membuat kotor rumahku.

“Hmm….”ibuku berdehem pelan.Biasanya ini adalah awal yang akan digunakannya untuk menguliahiku.Tapi kali ini aku sangat membutuhkan bimbingannya.Jadi aku mulai memasang telingaku dengan seksama.
“Kau tahu apa yang ibu rasakan saat ini?”Aku menggeleng pelan walau ibuku mungkin tak bisa melihatnya.

“Aku sangat merindukan masa-masa membesarkan kalian dulu.Aku terkadang membayangkan kau bermain lompat tali di beranda depan bersama kakak-kakakmu.”

“Aku kadang juga masih mendengar bagaimana kalian saling berteriak memperebutkan mainan,dan salah satu dari kalian menangis lalu berlari memeluk ibu…..”Sampai disini kudengar suara wanita tercintaku itu mulai bergetar.

“Juga ketika kau sedang belajar menulis dan mencoreti semua tempat yang bisa kautulisi.”Aku tersenyum kecil,membayangkan lemari,dinding,meja,kursi,bahkan baju kesayangan ibuku yang penuh dengan hasil karyaku. Dan ibu tak pernah menghapusnya sampai sekarang!

“Kau tahu,sayang……ibu tak pernah sanggup menghapus bekas-bekas masa kecilmu itu…karena ibu ingin ia jadi pengingat kala ibu merindukanmu.Seperti saat ini….”Tangis ibuku akhirnya pecah juga.

Jarak yang memisahkan kami terlalu jauh sehingga aku tak bisa sering-sering mengunjunginya.Dan ibu merasakan kehadiranku melalui jejak-jejak masa kecilku itu.

Tanpa mendengar kata-kata selanjutnya,aku sudah bisa menangkap maksud ibuku.
Kuedarkan tatapanku ke sekeliling ruangan.
Hai….tiba-tiba saja rumah yang tadi kulihat begitu berantakan terlihat lebih indah sekarang. Dengan beragam masterpiece yang dibuat oleh anak-anakku.Beragam coretan di dinding,buku-buku yang berserakan,bekas-bekas tapak tangan dan mulut kecil di kaca jendela.Tempelan-tempelan origami hasil karya anak-anakku.

Aku menarik sudut mulutku ke atas dan kemudian tertawa lebar.Karena aku punya banyak pengingat saat merindukan anak-anakku kelak!!
(Terinspirasi dari Chicken Soup)

0 comments:

Post a Comment