Feeds RSS

Tuesday, 14 December 2010

Khadimatku,Pahlawanku...


 “Mbak bikinin susuuu....!”
“Mbak ambilin bajuuu....!”
“Mbak cariin mainanku........!”
Bla....bla....bla....
Tergopoh-gopoh,khadimatku memenuhi permintaan para raja kecil itu.Tak nampak keluh atau wajah cemberut terlihat,bahkan seringkali ia mencandai anak-anakku,”Weleh....weleh....sabar  to mas,tangan mbak Yah kan cuma dua hehe....”

Kejadian di atas terjadi hampir tiap hari di rumahku.Teriakan,jeritan,kadang tangisan dari mulut-mulut mungil itu selalu menghiasi hari-hari khadimatku.Seseorang yang sungguh banyak berjasa mendukung segala aktivitasku dari belakang layar,namun perannya sering terlupakan.Seringkali aku pun ikut-ikutan menyuruhnya ini itu karena merasa telah ‘membelinya’dengan gaji yang kuberikan tiap bulan.

Padahal beban kerja dan tanggung jawabnya sungguh tak sebanding dengan nominal yang kubayarkan.Bayangkan saja,ia harus jadi babby sitter yang mengurusi berbagai keperluan anakku dari pagi hingga malam,menjadi satpam yang menjaga harta bendaku saat kutinggal pergi bekerja,merangkap cleaning service yang membersihkan rumahku dari ujung ruang tamu hingga sudut-sudut halaman belakang.

Ironisnya lagi,seringkali para ‘asisten’ itu mendapat penghargaan yang tak semestinya.Alih-alih pujian,umpatan,cacian,siksaan batin maupun fisik tak jarang ia terima sebagai upahnya bekerja keras siang malam. Sakit sekali rasanya membayangkan para pahlawan rumah tangga itu harus menerima siksaan majikannya hanya karena pekerjaannya kurang beres.Mengapa harus menyiksa sih....tidak adakah tindakan lain yang lebih manusiawi?Kalau memang pekerjaannya kurang memuaskan,dia kan bisa mengajarinya atau kalau memang dia sudah tidak cocok dengan asistennya,dia bisa memberhentikannya secara halus tanpa harus menyakitinya.

Kadang juga masih banyak diantara kita (termasuk saya juga)yang salah mengartikan dan memposisikan keberadaan seorang khadimat di dalam rumah tangga.Seorang khadimat adalah seseorang yang kita gaji untuk membantu pekerjaan rumah yang tidak bisa kita kerjakan sendiri karena kesibukan aktivitas kita.Namun ketika kita sudah kembali ke rumah dan kita punya waktu untuk mengerjakan aktivitas rumah tangga,terkadang kita masih saja menyuruh sang khadimat ini itu sementara kita ayik berleha-leha istirahat.Lalu,kapan kita memberi waktu dia untuk beristirahat setelah sibuk berjibaku mengasuh anak-anak dan membereskan rumah sejak Shubuh menjelang?

Yang juga perlu kita renungkan bersama adalah pengorbanan sang khadimat yang rela meninggalkan suami dan anak-anaknya tercinta demi mencari nafkah di rumah kita.Kita mungkin bisa makan enak hasil masakannya,padahal belum tentu ada yang memasak untuk suami dan anak-anaknya di rumah.Kita bisa gonta ganti baju setiap hari yang sudah dicuci dan disetrika rapi oleh khadimat,sementara keluarganya di rumah harus mencuci baju sendiri karena tak ada sang ibu yang mencucikannya.

Begitu pula dengan hak-hak pembantu yang sering terabaikan.Ketika ia begitu rindu pada keluarganya,kita dengan egois melarang ia pulang dengan alasan anak-anak kita tak ada yang mengasuh.Kita hanya mengijinkannya pulang setahun sekali saat lebaran.Itupun tak boleh lebih dari satu minggu.

Semoga catatan kecil ini mampu mengingatkan kita semua untuk lebih menghargai keberadaan khadimat di rumah kita.Sayangi ia setulus hati,penuhi hak-haknya,dan perlakukan ia sebagaimana kita ingin diperlakukan.

0 comments:

Post a Comment