Feeds RSS

Sunday, 17 April 2011

Ustadz dadakan


Sore tadi, tiba-tiba seorang ibu mengetuk pintu  rumahku.
“Maaf bu, bisa mengisi pengajian tidak? Hari ini ustadznya sedang berhalangan...”
Gubrak, asli kaget sekali disuruh jadi ustadzah dadakan. Mana aku tak punya persiapan materi lagi.
“Waduh...gimana ya bu, saya malu, lagipula nggak persiapan ini. Gimana ya? Atau ibu saja deh yang ngisi pengajiannya?”
Halah, disuruh malah ganti menyuruh!
“Ah, saya mah nggak tahu apa-apa bu. Udah nggak papa bu, saya tunggu di masjid ya?”

Kemudian si ibu segera beranjak pergi ke masjid yang jaraknya hanya beberapa langkah di depan rumahku.
Tinggallah aku yang bengong ditodong kayak gini. Duh, musti bongkar-bongkar buku nih. Nyari materi pengajian yang pas untuk ibu-ibu setengah baya peserta pengajian Annisa di masjid depan rumahku.

Sebetulnya, dulu waktu anakku masih bisa dihitung dengan jari hehe...(sekarang mah masih bisa dihitung juga dengan jari, tapi plus jari kaki) aku juga sudah menjalani menjadi ustadzah rutin di suatu forum pengajian. Tetapi, seiring dengan lahirnya satu demi satu bayi mungilku, akhirnya ‘tugas’ itu menjadi terbengkelai dan terpaksa aku estafetkan kepada temanku yang lain.

Ada rasa bersalah juga dalam hati kecilku saat meninggalkan tugas mulia itu, apalagi dengan alasan yang tidak syar’i,ngurus anak! Andai semua beralasan sama sepertiku, bisa dipastikan roda dakwah akan berjalan tersendat-sendat karena kekurangan sang penyeru kebaikan.


Dan akhirnya, ketika aku sibuk berjibaku mengurus domestik rumah tangga dan pekerjaan saja, ada kegersangan yang pelan-pelan merayap ke jiwaku. Bila dulu, semasa masih aktif berdakwah, aku senantiasa menjaga pikiran, lisan, dan tindakanku (ya iyalah, masak guru ngaji slengekan), ketika aku tak lagi rutin mengisi kajian aku merasa seolah tanpa beban. Bila dulu aku selalu berusaha menyelaraskan setiap tindakanku dengan materi-materi pengajian yang rutin kukhotbahkan, setelah aku absen kadang kurasakan tindakanku mulai kurang terkontrol. For example, aku kadang latah ikut ngerumpi membicarakan kejelekan orang lain saat kumpul-kumpul bareng teman, kali lain tertawa terbahak-bahak untuk sebuah lelucon yang tak lucu ( karena obyek yang ditertawakan lagi-lagi kejelekan orang lain. Hiks!), ngobrol ngalor ngidul untuk sesuatu yang menurutku tak bermanfaat misal tentang artis yang lagi nikahan, trus yang mau cerai, trus yang digossipin selingkuh. Duh, amburadul banget ya kelakuanku. Dan yang lebih parah lagi, hafalan Quranku jalan di tempat, karena aku tak merasa menyuruh orang lain untuk menghafalkannya. So, aku juga tak ‘bertanggung jawab’ untuk menambah hafalanku. Belum lagi ibadah sunnahku yang runtuh satu demi satu karena (lagi-lagi) kesibukanku telah menyita sebagian besar waktuku. Aku jadi ingat satu nasehat, bahwa bila seseorang tak disibukkan oleh kebaikan, maka ia akan disibukkan oleh kelalaian. Oww, how poor I am...

Itu dari segi kelakuanku. Ada lagi yang hilang dari sisi hatiku saat aku tak melaksanakan warisan jejak para Rasul tersebut. Aku tak lagi merasa peka. Bila dulu mendengar asma Allah disebut, terasa bergetar hatiku, bahkan pernah aku menangis saat mengisi pengajian karena merasakan betapa besar keagungan-Nya. Kini, aku biasa-biasa saja mendengar nama-Nya disebut berulang kali di depanku ( seperti kubilang tadi, rumahku persis di depan masjid, so sehari minimal lima kali nama-Nya terdengar olehku...), kurang peka akan kebesaran-Nya, bahkan kadang abai dan mengulur-ulur waktu memenuhi panggilan-Nya.

Alhamdulillah, melalui undangan dadakan sang ibu sore tadi, Allah mengingatkanku kembali untuk berjuang di jalan-Nya. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan menegakkan agama-Nya di muka bumi. Satu hal yang akan selalu kuingat kini, bahwa dakwah tidak membutuhkan kita tetapi kitalah yang membutuhkan dakwah. Dengan atau tanpa kehadiran kita, rodanya akan terus bergulir sepanjang waktu. 

Dan bila aku masih saja lupa, aku masih punya syair lagu ini sebagai pengingat :
...Berbekallah untuk hari yang sudah pasti...
...Sungguh kematian adalah muara manusia...
...Relakah dirimu menyertai segolongan orang...
...Mereka membawa bekal sedangkan tanganmu hampa...

0 comments:

Post a Comment