Feeds RSS

Tuesday, 17 May 2011

Wahai Ibu, Menulislah...


Kabar terbaru, Barat sedang menggalakkan kampanye agar para ibu kembali ke rumah. Hal ini berkebalikan dengan emansipasi yang dulu mereka dengungkan bahwa wanita bebas berkarier di luar rumah. Mungkin kampanye ini berkaitan erat dengan semakin maraknya kenakalan remaja dan kurangnya ‘sentuhan’ kasih sayang orang tua dalam keluarga.

Peran ibu dalam keluarga sangatlah strategis, yaitu menjadi pendidik pertama bagi putra-putrinya. Tetapi peran tersebut memerlukan konsekuensi, yang pertama adalah waktu yang memadai untuk mendampingi sang buah hati. Sulit dibayangkan seorang ibu yang berkarir bisa mengoptimalkan waktu yang dimilikinya untuk membesarkan anak-anaknya.

Yang kedua adalah ilmu yang memadai. Membesarkan anak tak cukup hanya mengandalkan naluri saja, seorang ibu juga harus rajin men’charge’ ilmunya agar mampu menghadapi berbagai problema yang mengiringi tumbuh kembang sang anak. Dengan aktif mencari ilmu, baik dengan cara membaca, searching di internet, maupun mengikuti berbagai seminar parenting, ibu akan lebih optimal mendidik anaknya. Apalagi bobot masalah yang dihadapi akan semakin meningkat seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Seorang ibu yang rajin ‘belajar’ pasti akan lebih tangkas menghadapi masalah yang dihadapi anak-anaknya dibandingkan ibu yang malas ‘meng-update’ ilmunya.

Ketika sang ibu mampu menangani masalah perkembangan anak kemudian ia bagikan pengalamannya tersebut melalui tulisan, maka manfaat yang diperoleh pun akan berlipat ganda. Sebagaimana tulisan Kartini yang mampu menjadi penggerak perubahan sosial bagi kaum wanita. Mungkin bila Kartini hanya menyimpan tulisannya dalam buku harian, kita tak pernah tahu perjuangannya yang telah menginspirasi kaum wanita untuk hidup lebih bermartabat. Dan hebatnya, tulisan tersebut mampu tetap menginspirasi walau sudah ditulis berpuluh tahun yang lalu.

Kisah Kartini tersebut seharusnya men jadi ‘pemantik’ bagi kita-kaum ibu- untuk bisa meneruskan perjuangannya. Hanya bersenjatakan pena, yakinlah bahwa kita mampu mengubah dunia. Perjuangan yang bahkan bisa dilakukan tanpa kita perlu keluar rumah. Kita hanya perlu mengisi kekayaan khazanah pengetahuan kita dengan banyak membaca, kemudian menuliskannya dan membagikannya agar semakin banyak manusia yang tercerahkan. Yakinlah, bahwa semakin banyak orang yang mengambil manfaat dari ilmu yang kita bagikan, semakin besar tabungan pahala yang kita miliki. Insya Allah...

0 comments:

Post a Comment